Minggu, 09 Maret 2014

Korlap Kampanye Caleg Golkar Terganggu?

HM Zaini mengetahui persis betapa penting manajemen pengelolaan perwakilan suara konstituennya di wilayah tempat tinggalnya, itulah sebabnya dia menunjuk beberapa perwakilan yang bisa dipercayanya untuk mengakomodir semua konstituen agar tidak terjadi tumpang tindih daftar pemilih tetap.

Hal ini bisa dimaklumi, karena pengalamannya sebagai lurah di dua kelurahan membuktikan bahwa delegasi tugas dan struktur manajemen yang rapih akan mampu membuat sebuah komunikasi publik yang terjaga dengan baik. Hal ini dia sampaikan dalam pertemuan kader partai Golkar di halaman rumahnya dimana dihadiri pula oleh beberapa pengurus DPD Kota Bekasi, terutama Dr.Rahmat Effendi, selaku Ketua Umum DPD dan sekaligus pejabat walikota Bekasi.

Sedikitnya acara tersebut dihadiri ratusan kader partai Golkar dan simpatisan serta relawan yang telah bekerja keras memperjuangkan H.M. Zaini untuk bisa memperoleh kursi sebagai anggota DPRD Kota Bekasi pada periode 2014 - 2019 mendatang.

Seminggu kemudian caleg dari partai yang sama, H. Marta pun mengadakan kegiatan pertemuan kader yang serupa, namun sayangnya yang hadir kebanyakan kaum ibu-ibu, yang dapat dipastikan adalah komunitas pengajian ibu-ibu di wilayah Bintara. Sedikitnya memang ada seratus pengunjung, sayangnya kehadiran Rahmat Effendi sebagai walikota juga Ketua DPD Partai Golkar tidak bisa diharapkan. Hal ini tentu saja membuat kecewa H. Marta, sebagai caleg Golkar yang berharap bisa membantunya meraih simpati warga.

H. Marta dengan H.M. Zaini memanglah putra daerah yang dipilih partai untuk menjaring suara di dapil Bekasi Barat khususnya kelurahan Bintara Jaya dan Bintara. Namun di lain sisi, caleg partai Golkar yang diambil dari Kecamatan Bekasi Barat sepertinya terlalu banyak. Ada tiga orang caleg partai kuning ini yang merupakan putra daerah asli Kelurahan Bintara, pertama adalah H.M. Zaini sang mantan lurah Bintara dan Bintara Jaya sendiri untuk beberapa periode, kemudian H.Marta, putra daerah yang juga mantan Camat di Bekasi Barat, dan yang terakhir adalah Nasrullah, salah satu pengurus kader muda di DPD Partai Golkar Kota Bekasi.

Hubungan antara ketiga caleg putra daerah beberapa bulan terakhir memang dikabarkan agak merenggang, bahkan konflik di antara mereka bagaikan perang dingin, dimana satu dengan yang lain terutama para relawannya saling mencari sisi kelemahan dan keburukan. Sebagai caleg yang harus cerdik mencermati laporan dari akar rumput baik itu lingkar satu maupun relawan serta pihak awak media, sepertinya hanya H.M. Zaini yang cukup berhati-hati mengambil sikap, jika dibandingkan dengan H.Marta yang cenderung agak emosional dan reaktif dalam bertindak pada masa kampanye yang puncaknya pada pekan awal April tahun ini.

Sedangkan respon dari caleg muda Nasrullah tampak seperti mengikuti saja keinginan para relawan dan pendukungnya dengan menyebar alat peraga kampanye secara serampangan tidak terkoordinasi dan memikirkan perasaan caleg lainnya yang separtai. Jadi wajar saja di beberapa titik, banner dan baliho caleg partai Golkar ini saling tumpang tindih, yang justru memberi kesan tidak kompaknya kampanye sesama caleg putra daerah ini.

Selain putra daerah dari partai berlambang pohon beringin ini, ada beberapa putra daerah lainnya yang ikut bersaing di partai lainnya, seperti H.Mulyadi dari PDIP, adik kandung dari H.Marta. Itulah sebabnya kans perolehan suara H.Marta untuk optimal terganjal oleh adiknya sendiri yang aktif sebagai pengurus RW di Kelurahan Bintara ini. Persaingan antara dua bersaudara ini saja sudah menyita energi H.Marta untuk bisa berkampanye secara optimal, belum lagi kesulitannya menghadapi banyak pertanyaan para wartawan yang selalu mencari celah kelemahan persaingan dua kakak adik ini di publik.

Ada juga tokoh muda Rahmatullah yang merupakan pesaing utama bagi Nasrullah. kedua caleg muda ini memang termasuk yang aktif berkompetisi dalam kampanye pemasangan APK (Alat Peraga Kampanye) di banyak titik di wilayah Bekasi Barat dan Medan Satria. Rahmatullah sendiri, caleg Partai Demokrat ini mempunyai rekam jejak kader dari partai banteng moncong putih, yakni partai dari H.Mulyadi, adik kandung mantan camat H.Marta.

Di samping itu ada caleg lain yang merupakan putra daerah asli Bintara dan Bintara Jaya, seperti H.Muttasil, caleg partai Gerindra, Hj.Rosdiyati, caleg perempuan dari partai Nasdem. Semuanya mempunyai rekam jejak yang beragam di dunia keorganisasian dan partai politik.

H.Muhammad Muttasil dulunya adalah aktivis di PKPI, kemudian dengan jaringan massa jama'ah pengajiannya, dirinya diterima partai Gerindra untuk menjaring suara putra asli daerah. Sebagai seorang aktivis yang juga bertugas di beberapa instansi pemerintah khususnya berkaitan dengan masalah legal syariah, H.Muttasil mempunyai pengalaman dan basis massa yang cukup. Demikian pula halnya dengan Hj.Rosdiyati, Ketua DPC Partai Nasdem ini adalah wanita pertama yang ada di kecamatan Bekasi Barat menjadi ketua umum partai biru tua milik Surya Palloh itu.

Kesigapan dan kehati-hatian H.M. Zaini sebagai pengurus RW yang juga tokoh masyarakat di dua kelurahan yang pernah dipimpinnya itu, memang satu hal yang wajar. Dalam politik, mantan caleg dari partai hanura pada periode pemilu 2009 ini telah belajar banyak dari kegagalannya di masa lalu. Namun setidaknya dia telah mendapat pengalaman dan investasi politik dari para pendukungnya yang tersebar di seluruh wilayah Bekasi Barat dan Medan Satria.

Bahkan ada salah satu koordinator lapangannya yang tinggal di wilayah Kranji, namun tak mendapatkan dukungan suara banyak berpindah ke caleg partai lainnya. Lelaki gaek yang masa mudanya penuh bekerja demi kepentingan warganya ini menanggapi dengan dingin, "Bagi saya gak ada ruginya, dia pindah mendukung caleg lain di kawasan perumahan harapan Baru Regency. Toh penggalangan massa yang dilakukannya pada tahun 2009 lalu tidak banyak dan tidak memberikan kontribusi yang berarti buat perolehan suara," jelasnya tentang korlapnya, berinisial HR yang kini jadi tim inti koordinator relawan caleg partai hijau H.BS.

H.M. Zaini memang telah memperhitungkan segala aspek sumber daya manusia di lingkungannya, permasalahannya adalah dia masih agak keteteran dengan dana kampanye, karena H.M. Zaini berharap tanah miliknya yang akan dijualnya bisa laku sehingga dia bisa mendapat dana segar untuk kampanye yang kian panas dan ramai ini.

Bisakah dia merebut satu kursi buat dirinya dari dapil Bekasi Barat dan Medan Satria? Survey terakhir baik dari parpol maupun independen, partainya baru memperoleh 1,6 kursi untuk bisa melenggang ke DPRD setidaknya dia harus mendapatkan lagi 0,4 bagian dari dukungan suara yang ditargetkan Ketua DPD Partai Golkar, 2 kursi setiap dapil.

Sidik Rizal, pengamat masalah sosial politik di kota Bekasi


Berikut ini beberapa nama yang diberinya tugas untuk menjadi wakilnya di setiap kelurahan di Bekasi Barat.

1 komentar:

Google+ Followers

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...